Terinspirasi dari “The Subtle Art of Not Giving a F*ck” — Mark Manson


Ada sebuah buku yang judulnya nggak bisa ditulis lengkap di kartu ucapan ulang tahun, tapi isinya mungkin lebih bijak dari semua kata-kata mutiara yang pernah dijadiin caption foto sunset.

Judulnya The Subtle Art of Not Giving a F*ck. Penulisnya Mark Manson. Intinya, kurang lebih, adalah: kita terlalu capek ngurus hal-hal yang sebenernya nggak penting, dan itu masalah kita sendiri.

Selamat datang di buku self-help yang anti-self-help.


Hidup Itu Memang Susah, Bro

Manson membuka bukunya dengan kenyataan yang biasanya kita sembunyikan rapat-rapat di balik senyum foto profil: hidup itu penuh masalah, dan nggak akan pernah berhenti penuh masalah.

Di Indonesia, ini terasa sangat relevan. Kita adalah bangsa yang sudah sangat terlatih untuk bilang “Alhamdulillah baik” meskipun sebenarnya cicilan bulan ini belum kelar, atasan menyebalkan, dan RT baru bikin grup WhatsApp lagi.

Manson bilang: masalahnya bukan ada atau nggaknya masalah. Masalahnya adalah kita milih masalah yang mana. Mau susah karena ngejar hal yang bermakna, atau susah karena terus-terusan peduliin omongan orang yang bahkan nggak hapal nama lengkap kita?

Pilihan ada di tangan kita. Sayangnya, kebanyakan dari kita milih yang kedua.


“Not Giving a F*ck” Bukan Berarti Jadi Orang Cuek Nggak Berguna

Ini disclaimer penting sebelum ada yang salah paham dan tiba-tiba berhenti mandi sambil bilang “ini ajaran buku.”

Maksud Manson bukan supaya kita jadi orang yang masa bodoh sama segalanya. Maksudnya: berhentilah buang energi untuk hal-hal yang nggak benar-benar penting bagi kita.

Contoh hal yang terlalu banyak dapat “jatah peduli” dari kita:

  • Pendapat tetangga soal penghasilan
  • Jumlah likes di foto kondangan
  • Kenapa si A belum ngucapin selamat ulang tahun padahal udah 3 jam sejak tengah malam

Sementara hal-hal yang seharusnya dapat lebih banyak perhatian — kesehatan, hubungan yang tulus, pekerjaan yang bermakna — sering terbengkalai karena kita kecapekan urusin yang di atas tadi.


Kamu Nggak Istimewa, dan Itu Melegakan

Bagian paling kontroversial dari buku ini: Manson dengan santainya bilang bahwa sebagian besar dari kita itu biasa-biasa aja, dan tidak apa-apa.

Generasi yang tumbuh disuapin konten “kamu luar biasa, kamu bisa jadi apa saja, manifestasikan mimpimu” ini mungkin butuh sedikit air dingin di muka. Bukan untuk dipatahkan semangatnya, tapi supaya ekspektasinya kembali ke bumi.

Karena orang yang paling damai hidupnya bukan yang paling berprestasi, tapi yang paling jujur dengan dirinya sendiri tentang apa yang sebenernya dia mau dan dia mampu.


Jadi, Apa yang Harus Dilakukan?

Pilih dengan sadar apa yang worth dipedulikan. Keluarga yang kita sayangi: worth it. Pekerjaan yang bermakna: worth it. Kesehatan mental: sangat worth it. Namun, drama grup keluarga soal siapa yang nggak datang ke arisan bulan lalu?

Pertimbangkan untuk tidak ikut campur.

Manson nggak minta kita jadi orang keras hati. Dia minta kita jadi orang yang lebih selektif dalam membagi perhatian karena perhatian kita terbatas. Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan mencemaskan hal yang bahkan nggak akan kita ingat lima tahun lagi.


Buku ini pendek, frontal, dan sesekali bikin tertawa pahit karena terlalu nyata. Cocok dibaca sambil ngopi, atau sambil pura-pura kerja.

Highly recommended. Judulnya saja sudah terapi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *