Bayangkan dua orang yang lahir di belahan dunia berbeda, tidak pernah bertemu, tidak pernah saling berkirim surat, tetapi sampai pada kesimpulan yang hampir sama tentang hal paling mendasar dalam hidup manusia: bagaimana cara belajar yang sejati?

Pertama adalah Paulo Freire, anak dari Recife, kota pelabuhan di timur laut Brasil yang dilanda kemiskinan. Ia tumbuh melihat bagaimana orang-orang miskin di sekitarnya bukan hanya kekurangan uang, tetapi juga kekurangan suara. Mereka tidak bisa membaca. Mereka tidak diajari untuk berpikir. Mereka diajar untuk patuh.¹

Kedua adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang kita kenal sebagai Ki Hajar Dewantara. Bangsawan Jawa dari Yogyakarta yang memilih turun dari keistimewaannya untuk berdiri bersama rakyat yang dijajah.²  Ia melihat sekolah-sekolah Belanda membentuk anak-anak pribumi menjadi pelayan penjajah yang fasih, bukan manusia yang merdeka.

Dua orang. Dua benua. Satu pertanyaan yang sama: Untuk apa sebenarnya kita bersekolah?

“Banking Education” dan Sekolah Kolonial: Nama Berbeda, Luka yang Sama

Freire memperkenalkan istilah yang terdengar sederhana, tetapi menghantam keras: banking education, pendidikan gaya menabung.³ Dalam sistem ini, guru adalah pemilik ilmu, murid adalah celengan kosong yang harus diisi. Murid yang baik adalah murid yang diam, duduk manis, hafal jawaban ujian, dan tidak bertanya hal-hal yang tidak ada di buku teks.

Freire tidak sekadar mengkritik metode mengajar yang membosankan. Ia mengkritik ideologi di balik metode itu. Sistem ini bukan kebetulan. Sadar atau tidak, ia dirancang untuk menghasilkan manusia yang tidak berani mempertanyakan sistem yang menindas mereka. Murid yang terbiasa menerima tanpa berpikir akan tumbuh menjadi warga yang menerima ketidakadilan tanpa perlawanan.

Ki Hajar Dewantara menamainya berbeda: pendidikan kolonial. Namun, diagnosisnya serupa. Sekolah-sekolah Belanda di Hindia Belanda mendidik anak Bumiputera untuk menirukan peradaban Eropa: berbahasa Belanda, berperilaku seperti tuan-tuan kulit putih, tetapi tidak pernah menjadi setara dengan mereka. Anak-anak diajar menjadi pegawai yang cakap, bukan pemimpin yang bebas. Mereka diajar mengagumi Barat, bukan mencintai tanah dan budaya sendiri.

Keduanya melihat hal yang sama dari sudut yang berbeda: pendidikan bisa menjadi alat penjinakan yang paling halus dan paling efektif yang pernah diciptakan manusia.

Guru Bukan Komandan, Murid Bukan Celengan

Lalu apa alternatifnya?

Freire menyebutnya pendidikan dialogis. Kata kunci adalah dialog. Bukan ceramah satu arah, bukan transfer informasi dari yang tahu ke yang tidak tahu. Namun, percakapan yang setara antara dua pihak yang sama-sama belajar. Guru membawa pengalaman dan pengetahuan; murid membawa realita hidup mereka. Keduanya bertemu di tengah, saling menantang, saling memperluas.

Dalam pendidikan dialogis, bahan ajar bukan halaman-halaman buku teks yang sudah ditentukan oleh kementerian. Bahan ajarnya adalah kehidupan nyata si pelajar. Bagi buruh tani Brasil yang buta huruf, belajar membaca bukan berarti mengeja “bola” dan “meja”. Namun, mulai dari kata-kata yang bermakna di dunia mereka: tanah, panen, harga. Dari sana, baru datang kesadaran bahwa dunia ini bukan sesuatu yang sudah takdir, tetapi sesuatu yang dibentuk oleh manusia dan bisa diubah oleh manusia. Proses inilah yang Freire sebut conscientização (pembangkitan kesadaran kritis).

Ki Hajar Dewantara merumuskannya dalam tiga kalimat yang sampai hari ini tertera di dinding kantor dinas pendidikan seluruh Indonesia. Meskipun, maknanya sering tidak dipahami, bahkan oleh yang memajangnya.

Ing ngarsa sung tuladha (di depan, guru memberi teladan). Ing madya mangun karsa (di tengah, guru membangun semangat). Tut wuri handayani (di belakang, guru mendorong untuk maju).

Tiga posisi. Tidak satu pun yang menyebutkan guru harus “mengisi” murid dengan ilmu. Posisi yang dominan justru yang ketiga — tut wuri, mengikuti dari belakang, mendorong, memberi ruang. Guru yang baik, bagi Ki Hajar, adalah guru yang tahu kapan harus mundur agar murid bisa maju sendiri.

Perbedaan kiasan ini bukan kebetulan. Freire berbicara dari tradisi filsafat kritis Eropa-Latin Amerika yang tajam dan analitis.  Ia banyak dipengaruhi oleh Hegel, Marx, dan eksistensialisme Sartre.¹⁰ Ki Hajar berbicara dari nilai-nilai Jawa yang menempatkan harmoni dan pertumbuhan organik sebagai pusat, sekaligus dipengaruhi gerakan Theosofi dan nasionalisme awal abad ke-20.¹¹ Akan tetapi, keduanya bermuara pada tempat yang sama: murid bukan objek, murid adalah subjek.

Titik Temu yang Jarang Disebut

Ada lima kesamaan mendasar antara Freire dan Ki Hajar yang jarang diletakkan berdampingan secara eksplisit:

Pertama, keduanya percaya bahwa setiap manusia pada dasarnya mampu berpikir dan berkembang. Tidak peduli latar belakang sosial, ekonomi, atau tingkat pendidikan formalnya. Freire menyebut ini dengan keyakinan bahwa setiap orang sudah “membaca dunianya” jauh sebelum bisa membaca kata-kata.¹² Ki Hajar menyebutnya kodrat. Setiap anak punya benih kebaikan dan kecerdasan yang perlu diberi ruang tumbuh, bukan dicetak dari luar.¹³

Kedua, keduanya melihat pendidikan sebagai tindakan politik, bukan aktivitas netral. Pilihan tentang apa yang diajarkan, bagaimana cara mengajarnya, bahasa apa yang digunakan, semua itu adalah pilihan politik. Freire menyatakan ini secara eksplisit dalam Pedagogy of the Oppressed (1968). Ki Hajar menunjukkannya lewat tindakan: mendirikan Tamansiswa pada 3 Juli 1922 di tengah tekanan pemerintah kolonial. Hal itu merupakan tindakan perlawanan politik yang disamarkan sebagai kegiatan pendidikan.¹⁴

Ketiga, keduanya tidak berhenti di teori. Freire turun ke pedesaan Brasil dan mengajarkan buruh tani membaca dalam waktu 45 hari melalui program literasi Angicos (1963). Jauh lebih cepat dari yang pernah dianggap mungkin.¹⁵ Ki Hajar mendirikan sekolah, menulis surat kabar De Expres dan Sediotomo, mengelola komunitas belajar yang nyata selama puluhan tahun.

Keempat, keduanya dibungkam oleh kekuasaan. Freire ditangkap dan diasingkan dari Brasil oleh pemerintah militer setelah kudeta 1964. Ia menghabiskan 16 tahun di pengasingan.¹⁶ Ki Hajar dibuang ke Banda Neira oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1913 atas tulisannya Als ik een Nederlander was (Andaikan Aku Seorang Belanda). Pada era Orde Baru namanya diawetkan sebagai simbol, tetapi semangat aslinya dibekukan.¹⁷

Kelima, keduanya meninggalkan pertanyaan yang belum selesai dijawab — bahkan hingga hari ini.

Perbedaannya: Melawan atau Tumbuh?

Di sinilah keduanya benar-benar berpisah jalan. Perbedaan ini penting untuk dipahami, bukan untuk memilih salah satu, tetapi untuk melihat di mana masing-masing paling berguna.

Freire berbicara dalam kerangka konflik. Ada yang menindas (oppressor), ada yang ditindas (oppressed). Ada yang punya kuasa, ada yang tidak. Pendidikan yang membebaskan harus dimulai dari kesadaran akan ketidaksetaraan ini. Tidak bisa pura-pura harmonis ketika struktur sosialnya memang tidak adil.¹⁸

Ki Hajar berbicara dalam kerangka tumbuh. Ia tidak menolak konflik. Ia sendiri terlibat dalam konflik nyata melawan kolonialisme. Namun, pendekatannya adalah membangun dari dalam, bukan sekadar melawan dari luar. Konsep among dalam sistem Tamansiswa yang berarti mengasuh, menjaga, dan menemani, menempatkan relasi guru-murid bukan sebagai relasi kuasa, melainkan relasi kepercayaan.¹⁹

Dalam bahasa yang lebih sederhana: Freire mengajarkan cara melihat siapa yang mengunci pintumu. Ki Hajar mengajarkan cara menemukan kunci di dalam dirimu sendiri.

Keduanya perlu. Kunci tanpa kesadaran tentang sistem yang mengunci akan dengan mudah direbut kembali. Kesadaran tentang penindasan tanpa kemampuan membangun diri sendiri hanya menghasilkan kemarahan tanpa arah.

Perbedaan lain yang signifikan: Freire bersifat universal dan lintas-budaya. Ia berbicara untuk semua bangsa yang tertindas. Ki Hajar sangat membumi secara kultural. Ia menempatkan identitas lokal Nusantara sebagai fondasi, bukan hambatan untuk maju. Hal ini membuat pemikiran Ki Hajar lebih “dapat dirasakan” secara langsung oleh orang Indonesia. Sedangkan Freire lebih tajam dalam membedah struktur kuasa secara sistematis.²⁰

Untuk Indonesia Hari Ini

Kurikulum Merdeka yang diluncurkan secara bertahap sejak 2022 membawa roh dari keduanya.²¹ “Merdeka belajar” adalah frasa Ki Hajar yang direvitalisasi. Pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), asesmen yang tidak hanya mengukur hafalan, dan penekanan pada Profil Pelajar Pancasila, semua ini adalah upaya menjawab kritik yang sudah disuarakan Freire dan Ki Hajar puluhan tahun lalu.

Sayangnya, ada jarak besar antara dokumen kebijakan dan kenyataan di ruang kelas. Penelitian PISA 2022 menempatkan Indonesia pada peringkat 68 dari 81 negara dalam kemampuan membaca, dan 70 dalam matematika. Angka yang tidak bergerak signifikan dalam satu dekade terakhir.²²

Guru di pelosok Papua masih mengajar 40 murid dengan buku teks yang tidak merepresentasikan kehidupan mereka. Mahasiswa masih duduk mendengar dosen membacakan slide selama dua jam tanpa ruang berdialog. Sekolah swasta elite berlomba mencetak murid dengan nilai sempurna untuk masuk universitas bergengsi, bukan untuk menjadi manusia yang utuh.

Freire pernah menulis bahwa tidak ada pendidikan yang netral.²³ Ki Hajar berkata bahwa kemerdekaan sejati bukan pemberian, tetapi sesuatu yang harus dibangun dari dalam. Ia menyebutnya zelfbeschikking, penentuan nasib sendiri.²⁴

Dua kalimat itu, diletakkan berdampingan, dan menjadi pekerjaan rumah yang masih belum selesai.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Jika kita seorang guru, pertanyaan Freire untuk kita adalah: Apakah ruang kelas kita adalah ruang di mana murid bisa bertanya hal-hal yang belum ada jawabannya? Dan pertanyaan Ki Hajar: Apakah kita sudah cukup mundur untuk memberi mereka ruang maju?

Jika kita seorang murid atau mahasiswa: kita tidak harus menunggu sistem berubah untuk mulai berpikir kritis. Freire mengajarkan buruh tani yang tidak pernah sekolah untuk membaca dalam 45 hari. Bukan karena metodanya ajaib, tetapi karena ia memperlakukan mereka sebagai orang yang sudah punya pengetahuan tentang dunianya.

Kita sudah punya pengetahuan tentang dunia. Pertanyaannya: apakah kita diberi ruang untuk mempertanyakannya?

Pada akhirnya, yang membuat Freire dan Ki Hajar masih relevan hari ini bukan karena mereka memberikan jawaban yang lengkap. Namun, karena mereka mengajarkan cara bertanya yang benar.

Catatan Kaki

  1. Biografi Freire secara rinci dapat dibaca dalam: Gadotti, Moacir. Reading Paulo Freire: His Life and Work. Albany: State University of New York Press, 1994. Lihat juga: Freire, Paulo. Pedagogy of Hope: Reliving Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum, 1994, hlm. 15–38, di mana Freire sendiri menceritakan masa kecilnya di Recife.
  2. Nama lahir Ki Hajar Dewantara adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Ia mengganti namanya pada 1922 saat mendirikan Tamansiswa sebagai tanda pelepasan ikatan feodalisme. Lihat: Dewantara, Ki Hajar. Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, 1962 (cetak ulang 2011), hlm. xi–xiv.
  3. Istilah banking education(educação bancária) diperkenalkan dalam: Freire, Paulo. Pedagogy of the Oppressed. Terjemahan Myra Bergman Ramos. New York: Herder and Herder, 1970, Bab 2, hlm. 71–86. Edisi bahasa Indonesia: Freire, Paulo. Pendidikan Kaum Tertindas. Terjemahan Utomo Dananjaya dkk. Jakarta: LP3ES, 1985.
  4. Freire, Pedagogy of the Oppressed, hlm. 73: “The more completely [the students] accept the passive role imposed on them, the more they tend simply to adapt to the world as it is and to the fragmented view of reality deposited in them.”
  5. Tentang politik pendidikan kolonial Belanda di Hindia Belanda, lihat: Furnivall, J.S. Netherlands India: A Study of Plural Economy. Cambridge: Cambridge University Press, 1944, hlm. 230–260. Lihat juga: Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia since c. 1200. Edisi ke-4. Stanford: Stanford University Press, 2008, hlm. 193–210.
  6. Konsep pendidikan dialogis dijabarkan dalam: Freire, Pedagogy of the Oppressed, Bab 3, hlm. 87–124. Freire menulis bahwa dialog sejati mensyaratkan humildade(kerendahan hati), fé nos homens (iman pada manusia), amor (cinta), dan esperança (harapan).
  7. Conscientizaçãoadalah kata kunci dalam pemikiran Freire yang sering diterjemahkan sebagai “penyadaran kritis” atau “pembangkitan kesadaran”. Lihat penjelasan mendalam dalam: Freire, Paulo. Education for Critical Consciousness. New York: Continuum, 1973, hlm. 19–27.
  8. Semboyan Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayanitertulis dalam: Dewantara, Ki Hajar. “Dasar-dasar Pendidikan” dalam Bagian Pertama: Pendidikan, hlm. 14. Frasa tut wuri handayani kemudian diadopsi sebagai semboyan resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
  9. Tentang filosofi tut wuri handayanidan sistem among, lihat: Dewantara, Ki Hajar. Bagian Pertama: Pendidikan, hlm. 20–25. Lihat juga: Suparlan, H. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing, 2005, Bab 1.
  10. Pengaruh filosofis Freire dibahas dalam: Roberts, Peter. Education, Literacy, and Humanization: Exploring the Work of Paulo Freire. Westport: Bergin & Garvey, 2000, hlm. 17–42. Freire secara eksplisit mengakui utang intelektualnya kepada Hegel (dialektika), Marx (analisis kelas), dan Sartre (eksistensialisme) dalam Pedagogy of the Oppressed, hlm. 27–28.
  11. Pengaruh Theosofi terhadap pemikiran Ki Hajar Dewantara diulas dalam: Tsuchiya, Kenji. Democracy and Leadership: The Rise of the Taman Siswa Movement in Indonesia. Terjemahan Peter Hawkes. Honolulu: University of Hawaii Press, 1987, hlm. 35–58.
  12. Konsep “membaca dunia sebelum membaca kata” dijabarkan dalam: Freire, Paulo & Macedo, Donaldo. Literacy: Reading the Word and the World. South Hadley: Bergin & Garvey, 1987, hlm. 29–36.
  13. Konsep kodrat alamdan kodrat zaman sebagai dasar pendidikan dibahas dalam: Dewantara, Ki Hajar. Bagian Pertama: Pendidikan, hlm. 40–50. Lihat juga interpretasi kontemporer dalam: Samho, Bartolomeus. Visi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara: Tantangan dan Relevansinya. Yogyakarta: Kanisius, 2013.
  14. Sejarah pendirian Tamansiswa pada 3 Juli 1922 dan konteks politiknya diuraikan dalam: Tsuchiya, Democracy and Leadership, hlm. 80–102. Lihat juga: Dewantara, Ki Hajar. Bagian Kedua: Kebudayaan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, 1967 (cetak ulang 2011).
  15. Program literasi Angicos 1963 yang terkenal didokumentasikan dalam: de Figueiredo-Cowen, M. & Gastaldo, D. (eds.). Paulo Freire at the Institute. London: Institute of Education, 1995, hlm. 12–18. Program ini mengajarkan 300 buruh tani membaca dan menulis dalam 45 hari, dan segera diikuti rencana nasional yang dihentikan oleh kudeta militer 1964.
  16. Freire ditangkap pada April 1964 dan dipenjara selama 70 hari sebelum diasingkan. Ia kemudian tinggal di Bolivia, Chile, Jenewa (bekerja untuk Dewan Gereja Sedunia), dan Amerika Serikat sebelum kembali ke Brasil pada 1980. Lihat: Mayo, Peter. Gramsci, Freire and Adult Education: Possibilities for Transformative Action. London: Zed Books, 1999, hlm. 45–48.
  17. Tulisan Als ik een Nederlander was(1913) yang menyebabkan pengasingan Ki Hajar dapat dibaca dalam terjemahan di: Dewantara, Ki Hajar. Bagian Kedua: Kebudayaan, hlm. 3–5. Tentang “pembekuan” semangat Ki Hajar di bawah Orde Baru, lihat: Elson, R.E. Suharto: A Political Biography. Cambridge: Cambridge University Press, 2001, hlm. 196–210.
  18. Freire, Pedagogy of the Oppressed, Bab 1, hlm. 44–45: “The oppressors do not perceive their monopoly on having more as a privilege which dehumanizes others and themselves. They cannot see that, in the egoistic pursuit of having as a possessing class, they suffocate in their own possessions.”
  19. Sistem amongTamansiswa dijelaskan dalam: Dewantara, Ki Hajar. Bagian Pertama: Pendidikan, hlm. 13–22. Among berasal dari kata Jawa momong (mengasuh/mendampingi), berbeda dari konsep mendidik (nggulawenthah) yang lebih bersifat membentuk.
  20. Perbandingan komprehensif antara pemikiran Freire dan Ki Hajar dalam konteks Indonesia dapat ditemukan dalam: Subagja, Soleh. Gagasan Liberalisme Pendidikan Islam. Malang: Madani, 2010. Lihat juga: Tilaar, H.A.R. Manifesto Pendidikan Nasional: Tinjauan dari Perspektif Postmodernisme dan Studi Kultural. Jakarta: Kompas, 2005.
  21. Kebijakan Kurikulum Merdeka dapat diakses dalam: Kemdikbudristek. Kurikulum Merdeka: Buku Saku Tanya Jawab. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2022. Tersedia di: https://kurikulum.kemdikbud.go.id
  22. PISA 2022 Results (Volume I): The State of Learning and Equity in Education. Paris: OECD Publishing, 2023. Data Indonesia: hlm. 170–175. Indonesia mendapat skor 359 dalam membaca (rata-rata OECD: 476) dan 366 dalam matematika (rata-rata OECD: 472).
  23. Freire, Pedagogy of the Oppressed, hlm. 84: “Education either functions as an instrument which is used to facilitate integration of the younger generation into the logic of the present system and bring about conformity… or it becomes the practice of freedom.”
  24. Konsep zelfbeschikking(penentuan nasib sendiri) dalam pemikiran Ki Hajar dibahas dalam konteks nasionalisme awal Indonesia dalam: Shiraishi, Takashi. An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912–1926. Ithaca: Cornell University Press, 1990, hlm. 212–230.

Daftar Pustaka

Sumber Primer

Dewantara, Ki Hajar. Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, 1962. Cetak ulang 2011.

Dewantara, Ki Hajar. Bagian Kedua: Kebudayaan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, 1967. Cetak ulang 2011.

Freire, Paulo. Pedagogy of the Oppressed. Terjemahan Myra Bergman Ramos. New York: Herder and Herder, 1970. Edisi ke-30: New York: Continuum, 2000.

Freire, Paulo. Education for Critical Consciousness. New York: Continuum, 1973.

Freire, Paulo. Pedagogy of Hope: Reliving Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum, 1994.

Freire, Paulo. Pendidikan Kaum Tertindas. Terjemahan Utomo Dananjaya dkk. Jakarta: LP3ES, 1985.

Freire, Paulo & Macedo, Donaldo. Literacy: Reading the Word and the World. South Hadley: Bergin & Garvey, 1987.

Sumber Sekunder dan Kontekstual

de Figueiredo-Cowen, M. & Gastaldo, D. (eds.). Paulo Freire at the Institute. London: Institute of Education, 1995.

Elson, R.E. Suharto: A Political Biography. Cambridge: Cambridge University Press, 2001.

Furnivall, J.S. Netherlands India: A Study of Plural Economy. Cambridge: Cambridge University Press, 1944.

Gadotti, Moacir. Reading Paulo Freire: His Life and Work. Albany: State University of New York Press, 1994.

Kemdikbudristek. Kurikulum Merdeka: Buku Saku Tanya Jawab. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2022.

Mayo, Peter. Gramsci, Freire and Adult Education: Possibilities for Transformative Action. London: Zed Books, 1999.

OECD. PISA 2022 Results (Volume I): The State of Learning and Equity in Education. Paris: OECD Publishing, 2023.

Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia since c. 1200. Edisi ke-4. Stanford: Stanford University Press, 2008.

Roberts, Peter. Education, Literacy, and Humanization: Exploring the Work of Paulo Freire. Westport: Bergin & Garvey, 2000.

Samho, Bartolomeus. Visi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara: Tantangan dan Relevansinya. Yogyakarta: Kanisius, 2013.

Shiraishi, Takashi. An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912–1926. Ithaca: Cornell University Press, 1990.

Subagja, Soleh. Gagasan Liberalisme Pendidikan Islam. Malang: Madani, 2010.

Suparlan, H. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing, 2005.

Tilaar, H.A.R. Manifesto Pendidikan Nasional: Tinjauan dari Perspektif Postmodernisme dan Studi Kultural. Jakarta: Kompas, 2005.

Tsuchiya, Kenji. Democracy and Leadership: The Rise of the Taman Siswa Movement in Indonesia. Terjemahan Peter Hawkes. Honolulu: University of Hawaii Press, 1987.

Sumber gambar: Kompasiana.com

 

Tulisan ini adalah bagian dari seri ringkasan dan refleksi buku-buku pendidikan kritis. Bagikan jika kamu merasa ini perlu dibaca lebih banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *