Mendadak Santri

Mendadak Santri

Robi tiba-tiba teringat bahwa ia menyimpan sarung di lemari. Sarung yang sejak lebaran lalu terlipat di tumpukan paling bawah, tak pernah disentuh. Hari ini sarung itu diangkat dari persemayamannya, disetrika, lalu dipakai dengan penuh percaya diri. Di depan cermin, senyumnya mengembang karena ia melihat dirinya tampak religius dan estetik.

Sejenak Robi sadar masih ada yang kurang: peci. Ia mencarinya ke seluruh penjuru rumah. Ia berhasil menemukannya tergeletak di atas lemari tertutup debu hampir setengah inci. “Hari ini aku sudah pantas jadi santri,” gumamnya.

Untuk menjadi santri, aturan mainnya sederhana. Kita tidak perlu mondok, tidak wajib hafal nadhom, dan tidak harus bangun sebelum Subuh. Cukup berfoto di depan sesuatu yang berbau pesantren, atau apapun yang bernuansa islami. Satu lagi, caption harus berupa kalimat-kalimat nasihat yang beraroma surga. Kalau perlu, ambil kutipan dari ulama dan tokoh-tokoh besar.

Barangkali kita perlu melakukan eksperimen sosial kecil-kecilan: Sudahkah kita benar-benar menjadi santri? Apa jangan-jangan yang kita lakukan hanyalah magang tujuh jam menjadi santri dengan hasil akhir berupa feed medsos yang rapi?

Sibuk Menata Sarung, Lupa Menata Perilaku

Mari jujur soal pakaian dulu. Sebab, di sinilah kesantrian kita paling kentara. Seorang santri sungguhan mengenakan sarung karena alasan fungsional: untuk salat, mengaji, akhlak, dan kehormatan. Biasanya, warnanya mulai memudar karena dikenakan sepanjang hari. Terdapat lipatan-lipatan tak beraturan di beberapa bagian karena tak pernah dilewati setrika.

Sementara santri dadakan mengenakan sarung dengan pertimbangan yang berbeda. Warna dan motifnya wajib matching. Kalau perlu, pencahayaannya harus golden hour. Lipatan pinggangnya rapi. Cara berjalannya pelan, seolah sedang syuting iklan bulan Ramadan. Kalau sarungnya tak simetris, mukanya langsung memerah. Bukan karena kehilangan martabat, tetapi karena gagal tampil estetik.

Sarung sebenarnya mudah dipakai. Justru yang sulit adalah menata sikap dan kebiasaan yang menyertainya. Sayangnya, sebagian dari kita lebih sibuk menata sarung, daripada menata perilaku.

Makna Hidup di Penjara Suci

Sebenarnya, dunia santri tak asing bagi Robi. Ia pernah seminggu merasakan pengalaman autentik sebagai santri. Sebelum akhirnya ia memilih keluar dari tempat yang ia sebut sebagai “penjara suci”.

Ia merasakan tidur di kasur lantai bersama tiga puluh orang. Paginya, ia menulis di status WhatsApp, “Sebuah malam yang sangat membumi”. Ia ikut antre kamar mandi dua puluh menit, dan setelah itu muncul tulisan di caption, “Latihan mindfulness“. Ia juga pernah makan nasi dengan lauk seadanya. Beberapa saat kemudian, muncul kata-kata mutiara dengan mata berkaca-kaca, “Ternyata bahagia itu sederhana.”

Tentu saja Robi benar. Hanya saja ia mengungkapkannya dengan hati yang berbeda. Bagi santri sejati, makan dengan menu seadanya bukan hanya tuntutan efisiensi. Itulah latihan kepekaan sosial tingkat tinggi. Antre kamar mandi bukan sekadar retret melainkan ujian kesabaran dan pelajaran manajemen waktu yang sesungguhnya. Tidur di ruangan besar bersama puluhan orang seperti di barak pengungsian. Bagi mereka, itulah asyiknya kebersamaan.

Pengalaman yang sama, tetapi pemaknaannya berbeda karena niat dan tujuannya tak serupa.

Nyantri hakikatnya adalah mencari rida Allah Swt. melalui proses menuntut ilmu agama (tafaqquh fiddin), memperbaiki akhlak, dan mengabdi kepada guru atau kiai. Santri tak perlu mengejar algoritma atau berburu engagement. Karenanya, yang harus dilakukan bukan “makeup” penampilan, tetapi “makeover” kepribadian.

Santri Bukan Kostum Sehari

Sesungguhnya, Hari Santri bukan sekadar seremonial. Tanggal 22 Oktober dipilih untuk mengenang Resolusi Jihad 1945 yang digaungkan KH. Hasyim Asy’ari. Penetapannya sebagai hari nasional lewat Keppres Nomor 22 Tahun 2015 adalah pengakuan bahwa pesantren ikut menjaga republik ini sejak ia masih bayi. Sampai sekarang pesantren mengurus pendidikan, ekonomi umat, dan pembinaan akhlak di tempat-tempat yang sering tak terjangkau oleh program istana negara.

Di situlah ironinya. Hari santri sering kita peringati dengan upacara besar, perayaan megah, dan parade gegap gempita. Namun, ketika membicarakan kesejahteraan guru ngaji, peningkatan fasilitas pesantren, atau program pemberdayaan santri, suara kita sering tergagap-gagap.

Pesantren menjadi primadona saat menjelang pemungutan suara. Santri menjadi idola ketika tanggal 22 Oktober tiba. Apakah 364 hari berikutnya kita tetap menjadi santri? Jawabannya ada di benak kita masing-masing.

Akhirnya Robi sadar, santri bukan hanya kostum sehari. Ia harus melekat sepanjang tahun lewat penampilan, tutur kata, perilaku, dan kedalaman ilmu. Kalau kita hanya sanggup menjadi santri di hari perayaannya, jangan-jangan yang kita rayakan bukan santri, melainkan diri kita sendiri yang sedang tampil saleh.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *