{"id":170,"date":"2026-05-09T15:31:07","date_gmt":"2026-05-09T15:31:07","guid":{"rendered":"https:\/\/budiismailasro.com\/?p=170"},"modified":"2026-05-09T15:33:30","modified_gmt":"2026-05-09T15:33:30","slug":"dua-pemikir-satu-nyala-freire-ki-hajar-dan-pendidikan-yang-belum-selesai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/budiismailasro.com\/index.php\/2026\/05\/09\/dua-pemikir-satu-nyala-freire-ki-hajar-dan-pendidikan-yang-belum-selesai\/","title":{"rendered":"Dua Pemikir, Satu Nyala: Freire, Ki Hajar, dan Pendidikan yang Belum Selesai"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-171\" src=\"https:\/\/budiismailasro.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/fraire-dan-ki-hajar-6801193834777c0aaa6f39b2-300x229.jpg\" alt=\"\" width=\"326\" height=\"249\" srcset=\"https:\/\/budiismailasro.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/fraire-dan-ki-hajar-6801193834777c0aaa6f39b2-300x229.jpg 300w, https:\/\/budiismailasro.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/fraire-dan-ki-hajar-6801193834777c0aaa6f39b2-1024x781.jpg 1024w, https:\/\/budiismailasro.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/fraire-dan-ki-hajar-6801193834777c0aaa6f39b2-768x586.jpg 768w, https:\/\/budiismailasro.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/fraire-dan-ki-hajar-6801193834777c0aaa6f39b2-1536x1172.jpg 1536w, https:\/\/budiismailasro.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/fraire-dan-ki-hajar-6801193834777c0aaa6f39b2.jpg 2013w\" sizes=\"auto, (max-width: 326px) 100vw, 326px\" \/><\/p>\n<p>Bayangkan dua orang yang lahir di belahan dunia berbeda, tidak pernah bertemu, tidak pernah saling berkirim surat,\u00a0tetapi sampai pada kesimpulan yang hampir sama tentang hal paling mendasar dalam hidup manusia: bagaimana cara belajar yang sejati?<\/p>\n<p>Pertama adalah Paulo Freire, anak dari Recife, kota pelabuhan di timur laut Brasil yang dilanda kemiskinan. Ia tumbuh melihat bagaimana orang-orang miskin di sekitarnya bukan hanya kekurangan uang, tetapi juga kekurangan suara. Mereka tidak bisa membaca. Mereka tidak diajari untuk berpikir. Mereka diajar untuk patuh.<a href=\"#fn1\"><u>\u00b9<\/u><\/a><\/p>\n<p>Kedua adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang kita kenal sebagai Ki Hajar Dewantara. Bangsawan Jawa dari Yogyakarta yang memilih turun dari keistimewaannya untuk berdiri bersama rakyat yang dijajah.<a href=\"#fn2\"><u>\u00b2<\/u><\/a>\u00a0\u00a0Ia melihat sekolah-sekolah Belanda membentuk anak-anak pribumi menjadi pelayan penjajah yang fasih, bukan manusia yang merdeka.<\/p>\n<p>Dua orang. Dua benua. Satu pertanyaan yang sama: <em><i>Untuk apa<\/i><\/em><em><i>\u00a0<\/i><\/em><em><i>sebenarnya kita bersekolah?<\/i><\/em><\/p>\n<h2><strong><b>&#8220;Banking Education&#8221; dan Sekolah Kolonial: Nama Berbeda, Luka yang Sama<\/b><\/strong><\/h2>\n<p>Freire memperkenalkan istilah yang terdengar sederhana,\u00a0tetapi menghantam keras: <em><i>banking education<\/i><\/em>, pendidikan gaya menabung.<a href=\"#fn3\"><u>\u00b3<\/u><\/a>\u00a0Dalam sistem ini, guru adalah pemilik ilmu, murid adalah celengan kosong yang harus diisi. Murid yang baik adalah murid yang diam, duduk manis, hafal jawaban ujian, dan tidak bertanya hal-hal yang tidak ada di buku teks.<\/p>\n<p>Freire tidak sekadar mengkritik metode mengajar yang membosankan. Ia mengkritik <em><i>ideologi<\/i><\/em>\u00a0di balik metode itu. Sistem ini\u00a0bukan kebetulan. Sadar atau tidak, ia dirancang\u00a0untuk menghasilkan manusia yang tidak berani mempertanyakan sistem yang menindas mereka. Murid yang terbiasa menerima tanpa berpikir akan tumbuh menjadi warga yang menerima ketidakadilan tanpa perlawanan.<a href=\"#fn4\"><u>\u2074<\/u><\/a><\/p>\n<p>Ki Hajar Dewantara menamainya berbeda: pendidikan kolonial. Namun,\u00a0diagnosisnya serupa. Sekolah-sekolah Belanda di Hindia Belanda mendidik anak Bumiputera untuk menirukan peradaban Eropa: berbahasa Belanda, berperilaku seperti tuan-tuan kulit putih, tetapi tidak pernah menjadi setara dengan mereka.<a href=\"#fn5\"><u>\u2075<\/u><\/a>\u00a0Anak-anak\u00a0diajar menjadi pegawai yang cakap, bukan pemimpin yang bebas. Mereka diajar mengagumi Barat, bukan mencintai tanah dan budaya sendiri.<\/p>\n<p>Keduanya melihat hal yang sama dari sudut yang berbeda: <strong><b>pendidikan bisa menjadi alat penjinakan yang paling halus dan paling efektif yang pernah diciptakan manusia<\/b><\/strong>.<\/p>\n<h2><strong><b>Guru Bukan Komandan, Murid Bukan Celengan<\/b><\/strong><\/h2>\n<p>Lalu apa alternatifnya?<\/p>\n<p>Freire menyebutnya <em><i>pendidikan dialogis<\/i><\/em>. Kata kunci adalah dialog.\u00a0Bukan ceramah satu arah, bukan transfer informasi dari yang tahu ke yang tidak tahu.\u00a0Namun, percakapan yang setara antara dua pihak yang sama-sama belajar. Guru membawa pengalaman dan pengetahuan; murid membawa realita hidup mereka. Keduanya bertemu di tengah, saling menantang, saling memperluas.<a href=\"#fn6\"><u>\u2076<\/u><\/a><\/p>\n<p>Dalam pendidikan dialogis, bahan ajar bukan halaman-halaman buku teks yang sudah ditentukan oleh kementerian. Bahan ajarnya adalah kehidupan nyata si pelajar. Bagi buruh tani Brasil yang buta huruf, belajar membaca bukan berarti mengeja &#8220;bola&#8221; dan &#8220;meja&#8221;. Namun, mulai dari kata-kata yang bermakna di dunia mereka: tanah, panen, harga. Dari sana, baru datang kesadaran bahwa dunia ini bukan sesuatu yang sudah takdir, tetapi sesuatu yang dibentuk oleh manusia dan bisa diubah oleh manusia. Proses inilah yang Freire sebut <em><i>conscientiza\u00e7\u00e3o<\/i><\/em><em><i>\u00a0<\/i><\/em>(pembangkitan kesadaran kritis).<a href=\"#fn7\"><u>\u2077<\/u><\/a><\/p>\n<p>Ki Hajar Dewantara merumuskannya dalam tiga kalimat yang sampai hari ini tertera di dinding kantor dinas pendidikan seluruh Indonesia. Meskipun,\u00a0maknanya sering tidak dipahami, bahkan oleh yang memajangnya.<a href=\"#fn8\"><u>\u2078<\/u><\/a><\/p>\n<p><strong><b>Ing ngarsa sung tuladha<\/b><\/strong>\u00a0(di depan, guru memberi teladan). <strong><b>Ing madya mangun karsa<\/b><\/strong>\u00a0(di tengah, guru membangun semangat). <strong><b>Tut wuri handayani<\/b><\/strong>\u00a0(di belakang, guru mendorong untuk maju).<\/p>\n<p>Tiga posisi. Tidak satu pun yang menyebutkan guru harus &#8220;mengisi&#8221; murid dengan ilmu. Posisi yang dominan justru yang ketiga \u2014 <em><i>tut wuri<\/i><\/em>, mengikuti dari belakang, mendorong, memberi ruang. Guru yang baik, bagi Ki Hajar, adalah guru yang tahu kapan harus mundur agar murid bisa maju sendiri.<a href=\"#fn9\"><u>\u2079<\/u><\/a><\/p>\n<p>Perbedaan kiasan ini bukan kebetulan. Freire berbicara dari tradisi filsafat kritis Eropa-Latin Amerika yang tajam dan analitis. \u00a0Ia\u00a0banyak dipengaruhi oleh Hegel, Marx, dan eksistensialisme Sartre.<a href=\"#fn10\"><u>\u00b9\u2070<\/u><\/a>\u00a0Ki Hajar berbicara dari nilai-nilai Jawa yang menempatkan harmoni dan pertumbuhan organik sebagai pusat, sekaligus dipengaruhi gerakan Theosofi dan nasionalisme awal abad ke-20.<a href=\"#fn11\"><u>\u00b9\u00b9<\/u><\/a>\u00a0Akan tetapi,\u00a0keduanya bermuara pada tempat yang sama: <strong><b>murid bukan objek, murid adalah subjek<\/b><\/strong>.<\/p>\n<h2><strong><b>Titik Temu yang Jarang Disebut<\/b><\/strong><\/h2>\n<p>Ada lima kesamaan mendasar antara Freire dan Ki Hajar yang jarang diletakkan berdampingan secara eksplisit:<\/p>\n<p><em><i>Pertama<\/i><\/em>, keduanya percaya bahwa <strong><b>setiap manusia pada dasarnya mampu berpikir dan berkembang<\/b><\/strong>. Tidak peduli latar belakang sosial, ekonomi, atau tingkat pendidikan formalnya. Freire menyebut ini dengan keyakinan bahwa setiap orang sudah &#8220;membaca dunianya&#8221; jauh sebelum bisa membaca kata-kata.<a href=\"#fn12\"><u>\u00b9\u00b2<\/u><\/a>\u00a0Ki Hajar menyebutnya <em><i>kodrat<\/i><\/em>.\u00a0Setiap anak punya benih kebaikan dan kecerdasan yang perlu diberi ruang tumbuh, bukan dicetak dari luar.<a href=\"#fn13\"><u>\u00b9\u00b3<\/u><\/a><\/p>\n<p><em><i>Kedua<\/i><\/em>, keduanya melihat pendidikan sebagai <strong><b>tindakan politik<\/b><\/strong>, bukan aktivitas netral. Pilihan tentang apa yang diajarkan, bagaimana cara mengajarnya, bahasa apa yang digunakan, semua itu adalah pilihan politik. Freire menyatakan ini secara eksplisit dalam <em><i>Pedagogy of the Oppressed<\/i><\/em>\u00a0(1968). Ki Hajar menunjukkannya lewat tindakan: mendirikan Tamansiswa pada 3 Juli 1922 di tengah tekanan pemerintah kolonial.\u00a0Hal itu merupakan tindakan perlawanan politik yang disamarkan sebagai kegiatan pendidikan.<a href=\"#fn14\"><u>\u00b9\u2074<\/u><\/a><\/p>\n<p><em><i>Ketiga<\/i><\/em>, keduanya <strong><b>tidak berhenti di teori<\/b><\/strong>. Freire turun ke pedesaan Brasil dan mengajarkan buruh tani membaca dalam waktu 45 hari melalui program literasi Angicos (1963).\u00a0Jauh lebih cepat dari yang pernah dianggap mungkin.<a href=\"#fn15\"><u>\u00b9\u2075<\/u><\/a>\u00a0Ki Hajar mendirikan sekolah, menulis surat kabar <em><i>De Expres<\/i><\/em>\u00a0dan <em><i>Sediotomo<\/i><\/em>, mengelola komunitas belajar yang nyata selama puluhan tahun.<\/p>\n<p><em><i>Keempat<\/i><\/em>, keduanya <strong><b>dibungkam oleh kekuasaan<\/b><\/strong>. Freire ditangkap dan diasingkan dari Brasil oleh pemerintah militer setelah kudeta 1964. Ia\u00a0menghabiskan 16 tahun di pengasingan.<a href=\"#fn16\"><u>\u00b9\u2076<\/u><\/a>\u00a0Ki Hajar dibuang ke Banda Neira oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1913 atas tulisannya <em><i>Als ik een Nederlander was<\/i><\/em>\u00a0(Andaikan Aku Seorang Belanda). Pada era Orde Baru namanya diawetkan sebagai simbol, tetapi semangat aslinya dibekukan.<a href=\"#fn17\"><u>\u00b9\u2077<\/u><\/a><\/p>\n<p><em><i>Kelima<\/i><\/em>, keduanya meninggalkan pertanyaan yang <strong><b>belum selesai dijawab<\/b><\/strong>\u00a0\u2014 bahkan hingga hari ini.<\/p>\n<h2><strong><b>Perbedaannya<\/b><\/strong><strong><b>: Melawan atau Tumbuh?<\/b><\/strong><\/h2>\n<p>Di sinilah keduanya benar-benar berpisah jalan. Perbedaan ini penting untuk dipahami, bukan untuk memilih salah satu, tetapi untuk melihat di mana masing-masing paling berguna.<\/p>\n<p>Freire berbicara dalam kerangka konflik. Ada yang menindas (<em><i>oppressor<\/i><\/em>), ada yang ditindas (<em><i>oppressed<\/i><\/em>). Ada yang punya kuasa, ada yang tidak. Pendidikan yang membebaskan harus dimulai dari kesadaran akan ketidaksetaraan ini. Tidak bisa pura-pura harmonis ketika struktur sosialnya memang tidak adil.<a href=\"#fn18\"><u>\u00b9\u2078<\/u><\/a><\/p>\n<p>Ki Hajar berbicara dalam kerangka tumbuh. Ia tidak menolak konflik. Ia sendiri terlibat dalam konflik nyata melawan kolonialisme. Namun, pendekatannya adalah membangun dari dalam, bukan sekadar melawan dari luar. Konsep <em><i>among<\/i><\/em>\u00a0dalam sistem Tamansiswa yang berarti mengasuh, menjaga,\u00a0dan\u00a0menemani,\u00a0menempatkan relasi guru-murid bukan sebagai relasi kuasa, melainkan relasi kepercayaan.<a href=\"#fn19\"><u>\u00b9\u2079<\/u><\/a><\/p>\n<p>Dalam bahasa yang lebih sederhana: Freire mengajarkan cara melihat <em><i>siapa yang mengunci pintumu<\/i><\/em>. Ki Hajar mengajarkan cara <em><i>menemukan kunci di dalam dirimu sendiri<\/i><\/em>.<\/p>\n<p>Keduanya perlu. Kunci tanpa kesadaran tentang sistem yang mengunci akan dengan mudah direbut kembali. Kesadaran tentang penindasan tanpa kemampuan membangun diri sendiri hanya menghasilkan kemarahan tanpa arah.<\/p>\n<p>Perbedaan lain yang signifikan: Freire bersifat universal dan lintas-budaya. Ia berbicara untuk semua bangsa yang tertindas. Ki Hajar sangat membumi secara kultural.\u00a0Ia menempatkan identitas lokal Nusantara sebagai fondasi, bukan hambatan untuk maju. Hal ini membuat pemikiran Ki Hajar lebih &#8220;dapat dirasakan&#8221; secara langsung oleh orang Indonesia.\u00a0Sedangkan\u00a0Freire lebih tajam dalam membedah struktur kuasa secara sistematis.<a href=\"#fn20\"><u>\u00b2\u2070<\/u><\/a><\/p>\n<h2><strong><b>Untuk Indonesia Hari Ini<\/b><\/strong><\/h2>\n<p>Kurikulum Merdeka yang diluncurkan secara bertahap sejak 2022 membawa roh dari keduanya.<a href=\"#fn21\"><u>\u00b2\u00b9<\/u><\/a>\u00a0&#8220;Merdeka belajar&#8221; adalah frasa Ki Hajar yang direvitalisasi. Pembelajaran berbasis proyek (<em><i>project-based learning<\/i><\/em>), asesmen yang tidak hanya mengukur hafalan, dan penekanan pada Profil Pelajar Pancasila, semua ini adalah upaya menjawab kritik yang sudah disuarakan Freire dan Ki Hajar puluhan tahun lalu.<\/p>\n<p>Sayangnya,\u00a0ada jarak besar antara dokumen kebijakan dan kenyataan di ruang kelas. Penelitian PISA 2022 menempatkan Indonesia pada peringkat 68 dari 81 negara dalam kemampuan membaca, dan 70 dalam matematika. Angka yang tidak bergerak signifikan dalam satu dekade terakhir.<a href=\"#fn22\"><u>\u00b2\u00b2<\/u><\/a><\/p>\n<p>Guru di pelosok Papua masih mengajar 40 murid dengan buku teks yang tidak merepresentasikan kehidupan mereka. Mahasiswa masih duduk mendengar dosen membacakan slide selama dua jam tanpa ruang berdialog. Sekolah swasta elite berlomba mencetak murid dengan nilai sempurna untuk masuk universitas bergengsi, bukan untuk menjadi manusia yang utuh.<\/p>\n<p>Freire pernah menulis bahwa tidak ada pendidikan yang netral.<a href=\"#fn23\"><u>\u00b2\u00b3<\/u><\/a>\u00a0Ki Hajar berkata bahwa kemerdekaan sejati bukan pemberian, tetapi sesuatu yang harus dibangun dari dalam. Ia menyebutnya\u00a0<em><i>zelfbeschikking<\/i><\/em>, penentuan nasib sendiri.<a href=\"#fn24\"><u>\u00b2\u2074<\/u><\/a><\/p>\n<p>Dua kalimat itu, diletakkan berdampingan, dan menjadi\u00a0pekerjaan rumah yang masih belum selesai.<\/p>\n<h2><strong><b>Apa yang Bisa K<\/b><\/strong><strong><b>ita <\/b><\/strong><strong><b>Lakukan?<\/b><\/strong><\/h2>\n<p>Jika kita seorang guru, pertanyaan Freire untuk kita\u00a0adalah: <em><i>Apakah ruang kelas<\/i><\/em><em><i>\u00a0kita<\/i><\/em><em><i>\u00a0adalah ruang di mana murid bisa bertanya hal-hal yang belum ada jawabannya?<\/i><\/em>\u00a0Dan pertanyaan Ki Hajar: <em><i>Apakah <\/i><\/em><em><i>kita<\/i><\/em><em><i>\u00a0sudah cukup mundur untuk memberi mereka ruang maju?<\/i><\/em><\/p>\n<p>Jika kita\u00a0seorang murid atau mahasiswa: kita\u00a0tidak harus menunggu sistem berubah untuk mulai berpikir kritis. Freire mengajarkan buruh tani yang tidak pernah sekolah untuk membaca dalam 45 hari. Bukan karena metodanya ajaib, tetapi karena ia memperlakukan mereka sebagai orang yang sudah punya pengetahuan tentang dunianya.<\/p>\n<p>Kita\u00a0sudah punya pengetahuan tentang dunia. Pertanyaannya: apakah kita\u00a0diberi ruang untuk mempertanyakannya?<\/p>\n<p>Pada akhirnya, yang membuat Freire dan Ki Hajar masih relevan hari ini\u00a0bukan karena mereka memberikan jawaban yang lengkap.\u00a0Namun,\u00a0karena mereka mengajarkan cara bertanya yang benar.<\/p>\n<h2><strong><b>Catatan Kaki<\/b><\/strong><\/h2>\n<ol>\n<li>Biografi Freire secara rinci dapat dibaca dalam: Gadotti, Moacir. <em><i>Reading Paulo Freire: His Life and Work<\/i><\/em>. Albany: State University of New York Press, 1994. Lihat juga: Freire, Paulo. <em><i>Pedagogy of Hope: Reliving Pedagogy of the Oppressed<\/i><\/em>. New York: Continuum, 1994, hlm. 15\u201338, di mana Freire sendiri menceritakan masa kecilnya di Recife.<\/li>\n<li>Nama lahir Ki Hajar Dewantara adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Ia mengganti namanya pada 1922 saat mendirikan Tamansiswa sebagai tanda pelepasan ikatan feodalisme. Lihat: Dewantara, Ki Hajar. <em><i>Bagian Pertama: Pendidikan<\/i><\/em>. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, 1962 (cetak ulang 2011), hlm. xi\u2013xiv.<\/li>\n<li>Istilah <em><i>banking education<\/i><\/em>(<em><i>educa\u00e7\u00e3o banc\u00e1ria<\/i><\/em>) diperkenalkan dalam: Freire, Paulo. <em><i>Pedagogy of the Oppressed<\/i><\/em>. Terjemahan Myra Bergman Ramos. New York: Herder and Herder, 1970, Bab 2, hlm. 71\u201386. Edisi bahasa Indonesia: Freire, Paulo. <em><i>Pendidikan Kaum Tertindas<\/i><\/em>. Terjemahan Utomo Dananjaya dkk. Jakarta: LP3ES, 1985.<\/li>\n<li>Freire, <em><i>Pedagogy of the Oppressed<\/i><\/em>, hlm. 73: &#8220;The more completely [the students] accept the passive role imposed on them, the more they tend simply to adapt to the world as it is and to the fragmented view of reality deposited in them.&#8221;<\/li>\n<li>Tentang politik pendidikan kolonial Belanda di Hindia Belanda, lihat: Furnivall, J.S. <em><i>Netherlands India: A Study of Plural Economy<\/i><\/em>. Cambridge: Cambridge University Press, 1944, hlm. 230\u2013260. Lihat juga: Ricklefs, M.C. <em><i>A History of Modern Indonesia since c. 1200<\/i><\/em>. Edisi ke-4. Stanford: Stanford University Press, 2008, hlm. 193\u2013210.<\/li>\n<li>Konsep pendidikan dialogis dijabarkan dalam: Freire, <em><i>Pedagogy of the Oppressed<\/i><\/em>, Bab 3, hlm. 87\u2013124. Freire menulis bahwa dialog sejati mensyaratkan <em><i>humildade<\/i><\/em>(kerendahan hati), <em><i>f\u00e9 nos homens<\/i><\/em>\u00a0(iman pada manusia), <em><i>amor<\/i><\/em>\u00a0(cinta), dan <em><i>esperan\u00e7a<\/i><\/em>\u00a0(harapan).<\/li>\n<li><i><\/i><em><i>Conscientiza\u00e7\u00e3o<\/i><\/em>adalah kata kunci dalam pemikiran Freire yang sering diterjemahkan sebagai &#8220;penyadaran kritis&#8221; atau &#8220;pembangkitan kesadaran&#8221;. Lihat penjelasan mendalam dalam: Freire, Paulo. <em><i>Education for Critical Consciousness<\/i><\/em>. New York: Continuum, 1973, hlm. 19\u201327.<\/li>\n<li>Semboyan <em><i>Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani<\/i><\/em>tertulis dalam: Dewantara, Ki Hajar. &#8220;Dasar-dasar Pendidikan&#8221; dalam <em><i>Bagian Pertama: Pendidikan<\/i><\/em>, hlm. 14. Frasa <em><i>tut wuri handayani<\/i><\/em>\u00a0kemudian diadopsi sebagai semboyan resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.<\/li>\n<li>Tentang filosofi <em><i>tut wuri handayani<\/i><\/em>dan sistem <em><i>among<\/i><\/em>, lihat: Dewantara, Ki Hajar. <em><i>Bagian Pertama: Pendidikan<\/i><\/em>, hlm. 20\u201325. Lihat juga: Suparlan, H. <em><i>Menjadi Guru Efektif<\/i><\/em>. Yogyakarta: Hikayat Publishing, 2005, Bab 1.<\/li>\n<li>Pengaruh filosofis Freire dibahas dalam: Roberts, Peter. <em><i>Education, Literacy, and Humanization: Exploring the Work of Paulo Freire<\/i><\/em>. Westport: Bergin &amp; Garvey, 2000, hlm. 17\u201342. Freire secara eksplisit mengakui utang intelektualnya kepada Hegel (dialektika), Marx (analisis kelas), dan Sartre (eksistensialisme) dalam <em><i>Pedagogy of the Oppressed<\/i><\/em>, hlm. 27\u201328.<\/li>\n<li>Pengaruh Theosofi terhadap pemikiran Ki Hajar Dewantara diulas dalam: Tsuchiya, Kenji. <em><i>Democracy and Leadership: The Rise of the Taman Siswa Movement in Indonesia<\/i><\/em>. Terjemahan Peter Hawkes. Honolulu: University of Hawaii Press, 1987, hlm. 35\u201358.<\/li>\n<li>Konsep &#8220;membaca dunia sebelum membaca kata&#8221; dijabarkan dalam: Freire, Paulo &amp; Macedo, Donaldo. <em><i>Literacy: Reading the Word and the World<\/i><\/em>. South Hadley: Bergin &amp; Garvey, 1987, hlm. 29\u201336.<\/li>\n<li>Konsep <em><i>kodrat alam<\/i><\/em>dan <em><i>kodrat zaman<\/i><\/em>\u00a0sebagai dasar pendidikan dibahas dalam: Dewantara, Ki Hajar. <em><i>Bagian Pertama: Pendidikan<\/i><\/em>, hlm. 40\u201350. Lihat juga interpretasi kontemporer dalam: Samho, Bartolomeus. <em><i>Visi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara: Tantangan dan Relevansinya<\/i><\/em>. Yogyakarta: Kanisius, 2013.<\/li>\n<li>Sejarah pendirian Tamansiswa pada 3 Juli 1922 dan konteks politiknya diuraikan dalam: Tsuchiya, <em><i>Democracy and Leadership<\/i><\/em>, hlm. 80\u2013102. Lihat juga: Dewantara, Ki Hajar. <em><i>Bagian Kedua: Kebudayaan<\/i><\/em>. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, 1967 (cetak ulang 2011).<\/li>\n<li>Program literasi Angicos 1963 yang terkenal didokumentasikan dalam: de Figueiredo-Cowen, M. &amp; Gastaldo, D. (eds.). <em><i>Paulo Freire at the Institute<\/i><\/em>. London: Institute of Education, 1995, hlm. 12\u201318. Program ini mengajarkan 300 buruh tani membaca dan menulis dalam 45 hari, dan segera diikuti rencana nasional yang dihentikan oleh kudeta militer 1964.<\/li>\n<li>Freire ditangkap pada April 1964 dan dipenjara selama 70 hari sebelum diasingkan. Ia kemudian tinggal di Bolivia, Chile, Jenewa (bekerja untuk Dewan Gereja Sedunia), dan Amerika Serikat sebelum kembali ke Brasil pada 1980. Lihat: Mayo, Peter. <em><i>Gramsci, Freire and Adult Education: Possibilities for Transformative Action<\/i><\/em>. London: Zed Books, 1999, hlm. 45\u201348.<\/li>\n<li>Tulisan <em><i>Als ik een Nederlander was<\/i><\/em>(1913) yang menyebabkan pengasingan Ki Hajar dapat dibaca dalam terjemahan di: Dewantara, Ki Hajar. <em><i>Bagian Kedua: Kebudayaan<\/i><\/em>, hlm. 3\u20135. Tentang &#8220;pembekuan&#8221; semangat Ki Hajar di bawah Orde Baru, lihat: Elson, R.E. <em><i>Suharto: A Political Biography<\/i><\/em>. Cambridge: Cambridge University Press, 2001, hlm. 196\u2013210.<\/li>\n<li>Freire, <em><i>Pedagogy of the Oppressed<\/i><\/em>, Bab 1, hlm. 44\u201345: &#8220;The oppressors do not perceive their monopoly on having more as a privilege which dehumanizes others and themselves. They cannot see that, in the egoistic pursuit of having as a possessing class, they suffocate in their own possessions.&#8221;<\/li>\n<li>Sistem <em><i>among<\/i><\/em>Tamansiswa dijelaskan dalam: Dewantara, Ki Hajar. <em><i>Bagian Pertama: Pendidikan<\/i><\/em>, hlm. 13\u201322. <em><i>Among<\/i><\/em>\u00a0berasal dari kata Jawa <em><i>momong<\/i><\/em>\u00a0(mengasuh\/mendampingi), berbeda dari konsep mendidik (<em><i>nggulawenthah<\/i><\/em>) yang lebih bersifat membentuk.<\/li>\n<li>Perbandingan komprehensif antara pemikiran Freire dan Ki Hajar dalam konteks Indonesia dapat ditemukan dalam: Subagja, Soleh. <em><i>Gagasan Liberalisme Pendidikan Islam<\/i><\/em>. Malang: Madani, 2010. Lihat juga: Tilaar, H.A.R. <em><i>Manifesto Pendidikan Nasional: Tinjauan dari Perspektif Postmodernisme dan Studi Kultural<\/i><\/em>. Jakarta: Kompas, 2005.<\/li>\n<li>Kebijakan Kurikulum Merdeka dapat diakses dalam: Kemdikbudristek. <em><i>Kurikulum Merdeka: Buku Saku Tanya Jawab<\/i><\/em>. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2022. Tersedia di: https:\/\/kurikulum.kemdikbud.go.id<\/li>\n<li><em><i>PISA 2022 Results (Volume I): The State of Learning and Equity in Education<\/i><\/em>. Paris: OECD Publishing, 2023. Data Indonesia: hlm. 170\u2013175. Indonesia mendapat skor 359 dalam membaca (rata-rata OECD: 476) dan 366 dalam matematika (rata-rata OECD: 472).<\/li>\n<li>Freire, <em><i>Pedagogy of the Oppressed<\/i><\/em>, hlm. 84: &#8220;Education either functions as an instrument which is used to facilitate integration of the younger generation into the logic of the present system and bring about conformity&#8230; or it becomes the practice of freedom.&#8221;<\/li>\n<li>Konsep <em><i>zelfbeschikking<\/i><\/em>(penentuan nasib sendiri) dalam pemikiran Ki Hajar dibahas dalam konteks nasionalisme awal Indonesia dalam: Shiraishi, Takashi. <em><i>An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912\u20131926<\/i><\/em>. Ithaca: Cornell University Press, 1990, hlm. 212\u2013230.<\/li>\n<\/ol>\n<h2><strong><b>Daftar Pustaka<\/b><\/strong><\/h2>\n<h3><strong><b>Sumber Primer<\/b><\/strong><\/h3>\n<p>Dewantara, Ki Hajar. <em><i>Bagian Pertama: Pendidikan<\/i><\/em>. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, 1962. Cetak ulang 2011.<\/p>\n<p>Dewantara, Ki Hajar. <em><i>Bagian Kedua: Kebudayaan<\/i><\/em>. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, 1967. Cetak ulang 2011.<\/p>\n<p>Freire, Paulo. <em><i>Pedagogy of the Oppressed<\/i><\/em>. Terjemahan Myra Bergman Ramos. New York: Herder and Herder, 1970. Edisi ke-30: New York: Continuum, 2000.<\/p>\n<p>Freire, Paulo. <em><i>Education for Critical Consciousness<\/i><\/em>. New York: Continuum, 1973.<\/p>\n<p>Freire, Paulo. <em><i>Pedagogy of Hope: Reliving Pedagogy of the Oppressed<\/i><\/em>. New York: Continuum, 1994.<\/p>\n<p>Freire, Paulo. <em><i>Pendidikan Kaum Tertindas<\/i><\/em>. Terjemahan Utomo Dananjaya dkk. Jakarta: LP3ES, 1985.<\/p>\n<p>Freire, Paulo &amp; Macedo, Donaldo. <em><i>Literacy: Reading the Word and the World<\/i><\/em>. South Hadley: Bergin &amp; Garvey, 1987.<\/p>\n<h3><strong><b>Sumber Sekunder dan Kontekstual<\/b><\/strong><\/h3>\n<p>de Figueiredo-Cowen, M. &amp; Gastaldo, D. (eds.). <em><i>Paulo Freire at the Institute<\/i><\/em>. London: Institute of Education, 1995.<\/p>\n<p>Elson, R.E. <em><i>Suharto: A Political Biography<\/i><\/em>. Cambridge: Cambridge University Press, 2001.<\/p>\n<p>Furnivall, J.S. <em><i>Netherlands India: A Study of Plural Economy<\/i><\/em>. Cambridge: Cambridge University Press, 1944.<\/p>\n<p>Gadotti, Moacir. <em><i>Reading Paulo Freire: His Life and Work<\/i><\/em>. Albany: State University of New York Press, 1994.<\/p>\n<p>Kemdikbudristek. <em><i>Kurikulum Merdeka: Buku Saku Tanya Jawab<\/i><\/em>. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2022.<\/p>\n<p>Mayo, Peter. <em><i>Gramsci, Freire and Adult Education: Possibilities for Transformative Action<\/i><\/em>. London: Zed Books, 1999.<\/p>\n<p>OECD. <em><i>PISA 2022 Results (Volume I): The State of Learning and Equity in Education<\/i><\/em>. Paris: OECD Publishing, 2023.<\/p>\n<p>Ricklefs, M.C. <em><i>A History of Modern Indonesia since c. 1200<\/i><\/em>. Edisi ke-4. Stanford: Stanford University Press, 2008.<\/p>\n<p>Roberts, Peter. <em><i>Education, Literacy, and Humanization: Exploring the Work of Paulo Freire<\/i><\/em>. Westport: Bergin &amp; Garvey, 2000.<\/p>\n<p>Samho, Bartolomeus. <em><i>Visi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara: Tantangan dan Relevansinya<\/i><\/em>. Yogyakarta: Kanisius, 2013.<\/p>\n<p>Shiraishi, Takashi. <em><i>An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912\u20131926<\/i><\/em>. Ithaca: Cornell University Press, 1990.<\/p>\n<p>Subagja, Soleh. <em><i>Gagasan Liberalisme Pendidikan Islam<\/i><\/em>. Malang: Madani, 2010.<\/p>\n<p>Suparlan, H. <em><i>Menjadi Guru Efektif<\/i><\/em>. Yogyakarta: Hikayat Publishing, 2005.<\/p>\n<p>Tilaar, H.A.R. <em><i>Manifesto Pendidikan Nasional: Tinjauan dari Perspektif Postmodernisme dan Studi Kultural<\/i><\/em>. Jakarta: Kompas, 2005.<\/p>\n<p>Tsuchiya, Kenji. <em><i>Democracy and Leadership: The Rise of the Taman Siswa Movement in Indonesia<\/i><\/em>. Terjemahan Peter Hawkes. Honolulu: University of Hawaii Press, 1987.<\/p>\n<p>Sumber gambar: Kompasiana.com<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong><em><i>Tulisan ini adalah bagian dari seri ringkasan dan refleksi buku-buku pendidikan kritis. Bagikan jika kamu merasa ini perlu dibaca lebih banyak orang.<\/i><\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bayangkan dua orang yang lahir di belahan dunia berbeda, tidak pernah bertemu, tidak pernah saling berkirim surat,\u00a0tetapi sampai pada kesimpulan yang hampir sama tentang hal paling mendasar dalam hidup manusia: bagaimana cara belajar yang sejati? Pertama adalah Paulo Freire, anak dari Recife, kota pelabuhan di timur laut Brasil yang dilanda kemiskinan. Ia tumbuh melihat bagaimana [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5,13],"tags":[59,60,57,53,56,58,55],"class_list":["post-170","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","category-ringkasan-buku","tag-filsafat-pendidikan","tag-indonesia","tag-ki-hajar-dewantara","tag-kurikulum-merdeka","tag-paulo-freire","tag-pedagogi-kritis","tag-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/budiismailasro.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/170","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/budiismailasro.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/budiismailasro.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/budiismailasro.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/budiismailasro.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=170"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/budiismailasro.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/170\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":174,"href":"https:\/\/budiismailasro.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/170\/revisions\/174"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/budiismailasro.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=170"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/budiismailasro.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=170"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/budiismailasro.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=170"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}