Setiap tahun, Indonesia mempunyai beragam tradisi. Dari keagamaan, budaya, hingga bencana. Tradisi bencana? Ya, musim asap contohnya. Langit berubah jingga, matahari tampil seperti kuning telur yang gosong, dan kita mendadak jadi penikmat senja gratis. Dua puluh empat jam sehari, lengkap dengan bonus batuk. Tidak perlu filter Instagram. Alam sudah berbaik hati menyajikan efek senja untuk kita.
Seperti biasa, kita pun bersiap dengan penuh kedewasaan. Masker dibeli, aplikasi pemantau kualitas udara diunduh, dan grup WhatsApp RT dipenuhi pesan berantai: “Hati-hati ya Bapak/Ibu, jangan keluar rumah kalau tidak perlu. Semoga lekas hujan. Aamiin.” Di layar televisi, pejabat berseragam lengkap menyatakan bahwa situasi “sudah ditangani” dan pelaku “sedang didalami”. Kata didalami ini patut dicatat: di negeri ini hal seperti itu kedalamannya melebihi lapisan gambut.
Tak heran jika muncul pertanyaan yang kurang sopan untuk diajukan di tengah kabut: kalau sesuatu terjadi tiap tahun, pada bulan yang hampir sama, di daerah yang itu-itu juga, apakah ia masih pantas disebut musibah, ataukah sebenarnya sudah menjadi agenda?
Api, Karyawan Paling Efisien Se-Nusantara
Mari kita beri penghormatan kepada api. Ia bekerja tanpa alat berat, tanpa upah lembur, tanpa BPJS, dan tanpa perlu izin AMDAL. Dalam semalam ia membuka lahan yang butuh berminggu-minggu bila dikerjakan dengan cara lain. Tidak ada karyawan lain yang menawarkan efisiensi sedemikian rupa, dan ongkosnya hanya sekotak korek api. Wajar kalau ia begitu populer.
Hal yang membuat kita heran hanyalah kebiasaan api memilih lahan. Ia seperti tamu undangan yang selalu tahu persis di mana ada hajatan: tepat di kawasan hutan yang kelak menjadi kebun. Datangnya pun selalu pada musim kering ketika semua mudah tersulut. Sesekali, ketika ditanya siapa pemilik lahannya, tak seorang pun merasa memilikinya. Tanah terbakar itu mendadak tanpa tuan, seperti motor yang lupa siapa yang memarkirnya di depan gang. Sementara kita, para penonton yang baik, mengangguk-angguk dengan prasangka baik. Oh, bisa jadi apinya berasal dari puntung rokok, mungkin petir, atau memang sudah takdir.
Tentu tidak semua kebakaran lahir dari niat licik. Ada kelalaian, ada petani kecil yang membakar karena tak punya pilihan lain, dan ada kemarau panjang yang menolong pekerjaan itu. Namun, yang mengherankan, sosok yang paling berpengaruh justru paling jauh dari tanggung jawab.
Rapat, Doa, dan Tindakan Setengah Hati
Kita mempunyai tiga senjata andalan untuk menghadapi kebakaran. Pertama, rapat koordinasi. Rapat ini punya daya pemadam luar biasa: begitu selesai, foto bersama diunggah dan api otomatis dianggap padam. Kedua, doa. Salat minta hujan digelar di lapangan. Hanya itu yang bisa dilakukan warga biasa yang tak punya kuasa. Ketiga, hujan buatan. Solusi yang mungkin paling logis dan solutif, meskipun eksekusinya terlihat setengah hati.
Sementara itu, di lahan yang telah hangus dilalap si jago merah, kayu-kayu baru mulai bermunculan dan berdiri kokoh. Sayangnya, itu bukan pohon yang mulai tumbuh, melainkan papan peringatan. Padahal, orang Indonesia kebanyakan kebal dengan papan peringatan atau larangan.
Kita sebetulnya tidak kekurangan hukum. Kekurangan kita adalah keberanian untuk menyentuh siapa pun yang mengambil keuntungan dari lahan itu. Jauh lebih aman menghukum asap daripada menelusuri siapa yang paling menikmati pembukaan lahannya.
Warisan untuk Generasi Mendatang: Arang 2045
Kini bayangkan seorang anak sekolah di kota yang tertutup kabut. Pagi-pagi ia sudah bersiap, tetapi kabar datang. Sekolah diliburkan karena asap. Ia bersorak sebentar, lalu sadar ia harus mengurung diri di rumah dengan jendela tertutup, sambil menonton berita tentang hutan tempat ia seharusnya tumbuh besar. Libur ini tidak menyenangkan. Ia libur yang dibayar dengan paru-paru.
Orangutan dan satwa lain sudah lebih dulu jadi pengungsi, tanpa KTP, tanpa tenda, tanpa bantuan logistik, bahkan tanpa kesempatan menyalahkan siapa-siapa. Karbon terlepas naik ke langit dan dengan sopan ikut menghangatkan bumi. Ia turut menyulitkan generasi yang bahkan belum mengenal mortalitas pajak.
Kita sibuk kampanye Indonesia Emas 2045: bonus demografi, generasi unggul, ekonomi hijau. Kata “emas” itu menarik. Hanya saja, kalau hutan terus dibakar sementara kita sibuk mengurus plang dan rapat, jangan kaget bila sejarah mencatat edisi yang justru bikin pilu: Indonesia Arang 2045. Hitam, berkilau samar, dan masih hangat.
Api Hanya Menjalankan Perintah
Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan api. Ia tidak punya kepentingan, tidak punya rekening, tidak punya konsesi. Ia hanya makhluk patuh yang menjalankan perintah di tengah situasi yang mendukung: lahan murah, hukum lunak, dan ingatan publik yang pendek, sependek jarak pandang kita saat kabut tebal.
Maka pertanyaan sebenarnya bukan hanya “siapa yang menyalakan korek?”, tetapi juga “siapa yang membuat nyala apinya begitu menguntungkan dan aman?” Selama pertanyaan itu kita simpan rapi dalam laci rapat koordinasi, hutan akan terus terbakar. Masa depan akan terus hangus, dan tiap tahun kita akan menyambut musim asap dengan tabah, sambil berbisik pada langit jingga, “Lumayan, ya, senjanya indah dan lama.” Kalimantan tak lagi zamrud khatulistiwa. Ia kini menjadi pulau gambut dan karhutla.
